Curhat, Roti Mandarin Menyebalkan!

minggu ini merupakan hari-hari dimana kami disibukkan oleh praktikum TPHP yang wajib diikuti oleh mahasiswa angkatan 2006. praktikum TPHP ini dibagi perkelompok sesuai dengan kelompok pada mata kuliah Perancangan Pabrik I pada semester sebelumnya. sehingga, tema atau produk yang dilaksanakan pada praktikum TPHP sesuai dengan Produk yang dibuat dan dirancang pada Perancangan Pabrik I. kebetulan, pada saat perancangan pabrik I, kelompokku menbuat pabrik untuk roti mandarin.

praktikum hari pertama, orientasi bikin roti mandarin. dan hasilnya adalah produk yang gagal, meskipun masih dapat dimakan dan semua yang makan berkata enak. hal yang menyebabkan gagal adalah bantatnya roti yang kami buat. roti yang bantat dikatakan merupakan roti gagal. jadi, kami menganggap roti mandarin edisi pertama gagal.

hari ini, (kamis, 28 mei 2009) kami kembali melakukan praktikum. kali ini langsung dengan menggunakan taraf perlakuan. sub kelompok kami membuat roti dengan perlakuan waktu pemanggangan yang berbeda. sedangkan sub kelompok kami, dengan perlakuan penggunaan pengembang dan lama pengadukan  atau pencampuran (mixing) adonan.

kami kelompok terakhir yang keluar, karena kami mengulang percobaan kami. pembuatan roti yang pertama gagal, karena oven yang digunakan mendapatkan panas yang berlebih dari kompor. hasilnya, baru beberapa menit dipanggang, roti kami gosong dan bantat. selain itu, sub kelompok kami salah memasukkan bahan ke dalam adonan. akhirnya, produk sub kelompok kami langsung diberi label Gagal.

kira-kira 10 menit yang lalu, saya keluar ruangan lantaran agak bersitegang dengan anggota sub kelompok. apa yang menyebabkan terjadinya hal tersebut?

FYI, kami masih menggunakan oven biasa yang diletakkan diatas kompor. berdasar percobaan pertama dimana roti kami gosong, sekarang kami menggunakan api sedang berharap agar roti tidak gosong.

30 menit berlalu, tapi terlihat bahwa roti yang kami panggang tidak kunjung matang. teknisi lab, Mbak Anik, yang berpengalaman berkata bahwa pemanggangan minimal selama 30 menit. tapi tidak dijelaskan lanjut berapa suhu pemanggangan. teman sekelompok mengatakan sekitar 180 C.

memasuki menit ke-75, teman sub kelompok mengeluarkan roti dari panggangan, menganggap bahwa pemanggangan sudah cukup lama. roti dikeluarkan, kemudian di uji berapa penambahan tinggi yang terjadi, dan akan diuji sensoris.

10 menit berikutnya, roti kedua dikeluarkan untuk diuji ketebalan yang dihasilkan. serta akan dikenakan uji seperti roti pertama, yaitu uji sensoris.

saya menganggap bahwa percobaan sudah hampir selesai, meskipun uji sebenarnya belum dilakukan. selain itu, taraf uji selanjutnya juga sudah akan selesai, mengingat selang waktu yang akan dicobakan adalah 10 menit.

permasalahan mulai timbul setelah salah seorang teman mencoba mengeluarkan roti tersebut dan melihat bagian bawah (melekat pada cetakan/loyang). dan kami terkejut lantaran roti belum matang karena bagian bawah masih basah atau masih mentah. kemudian teman saya  tersebut mengusulkan untuk memasukkan kembali roti yang belum matang tersebut ke dalam oven.

tentu saja saya menentang hal tersebut. dari awal sudah ditetapkan (diputuskan bersama) bahwa waktu yang digunakan adalah 25 – 30 – 35. lalu, karena pada menit tersebut roti belum matang, maka diputuskan waktunya dinaikkan dua kali lipat lebih menjadi 75 – 85 – 95.

alasan saya menentangnya adalah lantaran bahan yang diperlakukan seperti pada kondisi tersebut, tentu saja akan mengakibatkan produk yang berbeda. karena produk (yang telah dianggap jadi) yang telah dianggap selesai terkena perlakuan, dan terkena perlakuan lagi, lalu dikenakan perlakuan lagi, akan berbeda hasilnya dengan produk (yang dianggap jadi) yang telah dianggap selesai terkena perlakuan.

akhirnya, karena malas berdebat lama dan panjang lebar, saya memutuskan untuk meninggalkan laboratorium inkubator tempat praktikum saya… daripada menjadi perkara dan akhirnya bermusuhan.

beginilah, saya merasa bahwa kondisi penelitian di sekitar saya penuh dengan trik-intrik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. entah dengan menggunakan cara yang benar atau salah, penambahan atau pengurangan data, itu terserah mereka. bahkan beberapa skripsi hasil penelitian pun data telah mereka manipulasi. ah… semoga saya bisa berbeda jauh dengan mereka, dengan idealisme tolol tetapi benar saya.

 

[2 paragraf terakhir agak ngaco,, ngantuk benar….]

3 responses to “Curhat, Roti Mandarin Menyebalkan!

  1. sekarang semua orang lbh mnyukai hasiL drpada proses yaa…

    • Tetaplah pada idealismemu jika kamu merasa yakin…hehehe

      Bagus tuh klw bisa tanpa manipulasi… manipulasi tu kebiasaannya koruptor,,,hahaha

  2. hehehhee mutung mas ceritanya
    emang kadang ada yang kaya gitu
    kenapa gak diulang semua dari awal aja? gak boleh ya?
    hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s