Parkir di Yogya, Ancaman buat Mahasiswa!!

Judul di atas bukan main-main. Tapi merupakan kenyataan yang harus diketahui oleh semua orang. Atau mungkin semua orang sudah tahu??
Jogjakarta merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Sebenarnya, Jogjakarta (atau Yogyakarta) merupakan sebuah propinsi yang Istimewa, yang terdiri dari beberapa kota di dalamnya, Jogja, Sleman, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. (kalo ada yang kurang, diingatkan ya..). Kota Jogja sebenarnya kecil, yang membuatnya besar adalah propinsinya. Orang luar Jogja (katakanlah aku), menganggap bahwa jogja itu besar. Menganggap bahwa UGM itu ada di Jogja. Padahal di Sleman. (tapi emg betul, UGM itu Jogja, Jogjakarta…)

Kembali lagi.,, kenapa aku menulis dengan judul diatas?? Ini merupakan beberapa pengalamanku selama aku tinggal di Jogja, dan pergi kemana-mana dengan menggunakan sepeda motor. Selain itu, kenapa aku malas makan malam juga karena judul diatas..
Di jogja banyak univ. salah satu yang terkenal adalah UGM yang memiliki banyak mahasiswa dari Jogja sendiri dan dari luar. UGM ini terletak di Sleman, dan berada di ujung jalan Kaliurang. Thats why, jalan kaliurang rame sekali dari pagi sampe malam.
Daerah sekitar kampus banyak warung makan. Tapi sayangnya kalo malam tutup, dan yang buka adalah warung-warung tenda, atau rumah makan yang sekali makan minimal 10 ribu (kecuali Jogja Chicken yang ada paket seharga 5ribuan). Hal tersebut memberi keuntungan bagi orang-orang yang (mungkin) kurang kerjaan, dengan menjadi Tukang Parkir.
Tukang parkir di Jogja banyak sekali. Tiap ada tempat yang rame, tak perduli itu rumah makan, fotokopian, bahkan apotik, selalu ada tukang parkir. Tak peduli seberapa lama atau seberapa cepat waktu singgahnya, selalu saja kena parkir. Ga mahal, cuma 500 rupiah.

Tapi, bagaimana jika kasus ini dialami oleh mahasiswa: Joko seorang mahasiswa UGM. Dia berasal dari luar daerah, sehingga dia harus kost disuatu tempat di sekitar Jalan Kaliurang. Pada suatu ketika, tepat tanggal 25 (tanggal tua), teman Joko sakit. Teman Joko, sebut saja Kondo, minta dibelikan obat dan makanan karena dia tidak bisa keluar dalam keadaan sakit. Joko yang baik hati pun mengiyakannya, karena ia dipinjami sepeda motor yang dia sendiri tidak punya, meski temannya tadi ngutang ke Joko biaya unuk obat dan makan. Kebetulan, saat itu Joko juga ingin keluar untuk fotokopi soal-soal latihan, cetak foto untuk keperluan beasiswa, dan kirim tugas lewat email.
Joko membawa uang Rp 20.000 hasil ambil uang di ATM Niaga samping Indomart dan di celananya ada uang sebanyak Rp 5000. Di apotik circle K, dia beli obat habis 5000. Keluar, dia bayar parkir 500. Kemudian naek motor pindah ke Artha Foto untuk ambil foto, dan membayar sebesar 5000. Parkir bayar lagi 500. Setelah itu, dia ke fotokopi di fotokopi Sahabat dan habis 3000. Parkir lagi 500. Agar dapat makanan yang mengenyangkan dan murah dia mencoba beli makanan di Nasi Uduk Suroboyo depan Fakultas Kehutanan. Tempe telor nasi uduk, 9000 dapat dua bungkus, dibawa. Sisa uang tinggal 2500. Duh, bingung si Joko, karena belum ke warnet untuk upload tugas. Untung nasinya dibungkus, jadi ga usah bayar parkir. toh tadi juga ga ada karcis parkir, pikir Joko.
Ternyata, apa yang terjadi tidak sesuai perkiraan Joko. Tukang Parkir menghampiri Joko, memberi aba-aba mundur, dan ketika Joko hendak menjalankan Sepeda Motornya, Tukang Parkir memandangi Joko.
“Gratis kan Pak? Aku mbungkus soalnya.”, tanya Joko
“Mbak mau mbayar kok. De’e yo mbungkus”, jawab tukang parkir
“Aku ga ono duit e Pak”
“duitmu piro, tak susuki” – (uangmu berapa, aku beri kembalian)
“Ga ono pak.”
“yo wis, mene mreneo”
Karena merasa di “palaki”, joko bilang “Enggak pak.”
“Mbayare kapan? Sesuk mreneo.”
“Enggak pak. Aku males bayar”, ujar Joko karena terus disuruh-suruh datang esok harinya.
Tukang Parkir parkir mendekat lagi, dan mengarahkan tangannya ke muka Joko, dan memegang rahang Joko dengan sedikit tekanan.
“Yo sesuk Mreneo maneh”, perintah tukang parkir, kemudian melepaskan tangannya.
“Aku ga kate mrene maneh!”. Joko pun segera meninggalkan Tukang Parkir.
Tanpa basa-basi, Joko segera tancap gas dan meninggalkan warung dan Tukang parkir. Joko pun segera pulang ke kost dia untuk memberikan obat dan makanan temannya. Dan dengan sisa uang 2500, ia pergi ke Warnet, dan dengan tergesa-gesa pula mengupload tugasnya, dibayang-bayangi oleh uang parkir yang harus dibayar.

Bagaimana jika itu terjadi pada anda? Dalam semalam harus parkir sebanyak 4 kali. Maka dalam semalam pula kita harus menyediakan uang extra sebesar 2000 untuk membayar parkir. Jika setiap hari kita parkir 2 kali, maka dalam satu bulan kita perlu menyiapkan 30.000 hanya untuk parkir. (jumlah yang besar untuk saya, dan mahasiswa lain yang hidupnya pas-pasan).

Mereka (tukang parkir) hanya duduk, diam, kemudian berdiri dan memberi sebuah karcis (kumal, lecek, tak jelas tulisannya) yang diletakkan atau diselipkan di ATAS MOTOR, SETELAH pengendara motor MASUK ke dalam warung atau toko, TIDAK kepada PENGENDARA. Kemudian, dengan langkah biasa mendatangi kita (setelah selesai urusan di dalam), mengambil karcis secepatnya dan menunggu untuk menerima uang dari kita. Kemudian mundur ke belakang motor kita, menariknya (yang sebenarnya tidak kita perlukan, karena bisa sendiri), dan meninggalkan kita. (kadang menarik dulu, baru menunggu uang).
Begitulah rata-rata tukang parkir yang ada di Jogja. Tidak ada pelayanan nyata, tapi minta uang.
Jadi, menurut anda, siapa sebenarnya TUKANG PARKIR itu? Apa sesuai dengan gambaran diatas?
Menurut anda, pantas ga diberi uang? Itu termasuk ebuah pekerjaan atau bukan? Ato itu Pemalakan??
Dan menurutku, TUKANG PARKIR adalah Seorang Pemalak!! Dan berdasar apa yang dialami oleh JOKO diatas, maka tukang parkir di Depan Fakultas Kehutanan adalah seorang pemalak.

So,, apa yang sebaiknya dilakukan??
Terserah anda. Penilaian ada pada diri masing2. Yang jelas, aku menolak membayar uang parkir, kecuali tukang parkir memberikan pelayanan yang benar2 membantu (bagi diriku dan sekitar).

One response to “Parkir di Yogya, Ancaman buat Mahasiswa!!

  1. Kejadian itu juga terjadi di Bandung. Tidak hanya di warung2, tempat fotokopi, warnet, bahkan tempat mini market Circle K saja yang seharusnya parkirannya gratis untuk kepada pelanggan Circle K , dimintai bayaran, dan bayaran parkir di Bandung Rp 1000,-. Nasib saya hampir sama dengan mas. Seharusnya tukang parkir gadungan mesti ditindak lanjuti. Hidup mahasiswa !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s