Internet for Life

Saya kenal internet mulai pertengahan SMP, ketika tanpa sengaja jatuh cinta sesaat dengan game online yang terkenal saat itu, counter strike. sebenarnya, bukan suatu hal yang menggembirakan sih bila jatuh cinta pada sebuah game, tapi karena cukup menyenangkan saat itu dan belum terlalu ‘ngetop’, jadi ya asyik aja. saat itu, Saya belum memanfaatkan internet secara maksimal, lantaran belum mengetahui manfaat sebenarnya dari internet.

Lima tahun kemudian, Saya baru bisa menggunakan internet dengan sedikit maksimal. maklum, sebagai seorang mahasiswa, mengetahui perkembangan informasi adalah suatu keharusan. Kampus menyediakan fasilitas agar mahasiswa bisa terus online sesuai kebutuhan akademik. beruntung, tahun kedua kuliah, sebuah laptop menemani hari-hariku agar bisa terus online. dan lebih beruntung lagi, Saya akrab dengan kepala TIK di kampus. Internetan pun lancar jaya tanpa hambatan, termasuk akses ke situs yang terblokir. :p

Internet, layaknya sebuah teropong yang membantu kita untuk bisa melongok kemana aja sesuai keinginan. hampir semua informasi bisa didapatkan melalui internet, tak terkecuali beasiswa yang bejibun banyaknya untuk kalangan mahasiswa. Saya pun memanfaatkan akses internet kampus untuk mendapatkan informasi beasiswa dari luar kampus. Dan Voila, internet membantu Saya untuk mendapatkan beasiswa di tahun ke-2 kuliah.😀

Karena penerima beasiswa tidak hanya dari satu kampus, maka komunikasi antara yayasan penyedia beasiswa dan beswan (penerima beasiswa) diselenggarakan secara online melalui internet. Internet menjadi jembatan kami dalam berkomunikasi, agar pemberi beasiswa tahu perkembangan kami, dan membentuk sebuah jaringan yang kuat. Sama seperti sarang laba-laba, jika jaringan semakin besar, maka apa yang akan didapatkan kelak juga semakin besar. Dan memang itulah tujuan penyedia beasiswa, agar kami saling terhubung satu sama lain meski hanya melalui internet. “Sharing, Networking, and Developing”, sebuah misi yang memberi kami semangat agar tetap aktif selalu dalam forum beasiswa.

Saya melakukan hattrick mendapatkan beasiswa selama 3 tahun berturut-turut. Selama mendapatkan beasiswa tersebut, Saya dan kawan-kawan berhasil membentuk Paguyuban penerima beasiswa, yang merupakan cikal bakal terbentuknya paguyuban di tiap-tiap universitas yang memperoleh beasiswa yang sama. Komunikasi pun berlanjut hingga ke tiap-tiap paguyuban, untuk membahas bagaimana perkembangan tiap paguyuban. Internet, menjadi sebuah jalan utama dan jembatan kokoh yang menghubungkan antar paguyuban di tiap universitas. Semakin berkembangnya media sosial di internet, maka gerak paguyuban pun semakin leluasa. Facebook, Gtalk, Yahoo Messenger, Blog, Twitter, dan Google Docs, menjadi beberapa senjata kami dalam berkomunikasi, bertukar pikiran, dan menjadi saling berkembang. Yup, paguyuban secara tidak langsung sepakat untuk menggunakan fasilitas dari gratis dari google ini untuk memudahkan kami dalam bertukar informasi dan membuat rencana secara ‘resmi’. Ini merupakan salah satu dari manfaat internet yang membuat paguyuban kami XLangkah lebih maju.

Suatu hari, setelah lulus kuliah dan bergabung di forum alumni penerima beasiswa (iluni), Saya mendapatkan sebuah tugas yang harus dikerjakan secara online dengan fasilitas yang diberikan oleh Google docs. Tugas saya ‘membantu’ memindahkan data diri alumni dari text di facebook notes, melalui form di Google Docs satu persatu. Bayangkan saja jumlah alumni beswan yang sedemikian banyaknya, memindahkan data diri alumni satu persatu adalah kegiatan yang memakan waktu. Mau ga mau, Saya pun harus kreatif dalam mengerjakan tugas ini. dan sayangyaaaaa, pemilik (admin) google docs untuk iluni yang ternyata seorang cewek cantik (eheem) ini, sedikit ‘kebakaran jenggot’ dengan kreativitasku.

Karena sering ‘bertemu’ di email untuk berdiskusi untuk kepentingan alumni, maka tanpa sadar akan jauhnya jarak yang memisahkanku dengan dia (admin cewek tersebut), kami pun mulai dekat. Sedikit demi sedikit Saya melancarkan ‘serangan’ ke dia. Dari yang semula ‘benci’, kemudian menjadi ‘rindu’, dan akhirnya ‘bertemu’ secara nyata, setelah sekian lama bercengkerama melalui internet. Yup, dengan internet, Saya bisa XLangkah lebih maju dalam berkomunikasi dengan ‘calon’ kekasih saya.

Hingga akhirnya, setelah akrab sekian lama, Saya dan dia memutuskan untuk mengakhiri masa lajang kami. cukuplah bagi kami untuk bisa terus terhubung dengan internet, dan saatnya untuk memberikan porsi internet untuk hal lain yang bisa membuat kami XLangkah lebih maju dari yang lain.

Internet, membantu saya, dia, dan kawan-kawan untuk menjadi lebih baik dalam mendapatkan informasi, menyelesaikan sesuatu hal, berkomunikasi, dan tetap terhubung tanpa terbatasi oleh jarak dan ruang.

One response to “Internet for Life

  1. wah, nice writing. jadi minder liat tulisan yg bagus-bagus. kalo berkenan, mohon menilai tulisan di blog saya, apa sih yg kurang, meski ga sebagus yg diatas, lol.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s